Selasa, 13 November 2013
Pagi itu, aku lihat senyumnya, air wajahnya masih tetap menunjukan betapa lelahnya dia, tetapi tekadnya tetap memaksakannya untuk belajar trigonometri, hari ini ulangan matematika.
Dihari sebelumnya, aku putus hubungan dengannya, gak bisa dihubungi sama sekali, hingga akhirnya aku minta putus, tapi gajadi.
Pagi ini dia meminta maaf, tapi aku pura-pura marah, hanya untuk memastikan apakah dia masih punya usaha untuk berjuang? Ternyata nggak. Dia hanya meminta maaf lewat SMS, padahal jarak kita tidak lebih dari 5 meter. Dia hanya berbisik, aku buang muka. Terlihat dia sangat-sangat menikmati waktunya bersama temannya tanpa beban apapun, tanpa dosa, tanpa rasa salah, bahkan jika dilihat dari kelakuannya, dia seperti tidak menganggap bahwa aku ada. .
Selama dia tertawa, aku menangis, berpikiran bahwa aku sudah tidak lagi ada artinya bagi seseorang yang sangat berarti dihidupku.
Hingga akhirnya pada saat jam pelajaran terakhir, dia menghampiriku. Entah kenapa, semua hal yang aku tangisi seharian ini seketika hilang, tapi aku tetap menangis. Aku kecewa dengan dia atas bagaimana dia memperlakukanku dengan berbeda, disekolah dia memperlakukanku seperti aku bukan siapa-siapa dan di SMS dia memperlakukanku seperti satu-satunya orang dikehidupannya. Semua orang tahu hubungan kita, kenapa dia seperti ini? Hal itu sudah aku tanyakan. Dia bilang dia capek, dia cuma ingin bisa tertawa karena dia tidak ingin membuatku khawatir. Entah bagaimana aku bisa mengeluarkan semua kesalku. Aku tidak bisa.
Pada saat pulang sekolah, sebelum dia pulang, dia bilang "Kamu capek, aku lebih capek! Kamu gak ngerti aku!". Dia keluar dari kelas.
Aku hanya bisa diam karena aku tidak pernah bisa untuk mengutarakan apa yang benar-benar aku rasakan. Kini aku benar-benar merasakan kepergian dia. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika dia pergi dari kehidupanku. Apakah aku masih tetap bisa memiliki kehidupan yang berwarna seperti biasanya disaat aku bersamanya? Aku membutuhkannya.
Aku pergi ketempat dimana temanku duduk, Dhepram, aku peluk dia dan menangis.
Secara gak sadar, anxiety ku muncul, I lost control, I lost myself, aku menangis dan berteriak beberapa kali dipelukan Dhepram, beberapa teman memegangi tanganku dan kakiku karena aku terus meronta, seisi kelas yang tadinya sangat ramai menjadi hening dan hanya diisi dengan teriakanku, aku berteriak hingga akhirnya dia datang dan langsung memelukku. Mungkin aku sudah berhenti berteriak tapi aku tetap menangis, cerita mereka, mereka bilang aku lebih mirip kesurupan.
Setelah aku sedikit tenang, aku mulai sadar dengan apa yang baru saja terjadi, disela seduku, dipelukan dia, aku bertanya, "Kenapa selalu perasaanku yang tersakiti? Kenapa nggak fisiku aja biar aku sekalian mati?"